|
LAPORAN
PRAKTIKUM BIOLOGI
“UJI GOLONGAN
DARAH”
DISUSUN OLEH:
NAMA
: ARIANI
KELAS
: XI MIPA 2
SMA NEGERI 5
KENDARI
TAHUN AJARAN
2016/2017
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Darah adalah cairan jaringan
yang dialirkan melalui pembuluh darah. Darah terdiri atas sel-sel merah
(sel darah putih dan sel darah merah), trombosit (keping darah),dan plasma
darah. Ada beberapa sistem penggolongan darah pada manusia, misalnya sistem ABO
dan rhesus (Rh). Dasar penggolongan darah adalah adanya aglutinogen (antigen)
di dalam sel darah merah dan aglutinin (antibodi) di dalam
plasma (serum). Aglutinogen adalah zat yang digumpalkan dan aglutinin adalah
zat yang menggumpalkan.
Dr. Landsteiner merupakan
penemu sistem ABO. Dalam sistem ABO, ada tidaknya antigen tipe A dan B di
dalam sel darah merah menentukan golongan darah seseorang. Sistem tersebut
mengelompokkan darah manusia menjadi empat golongan, yaitu, A, B, AB, dan O . Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakangi
praktikan ini adalah mengetahui teknik uji golongan darah.
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian.
Bahan interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan di dalamnya terdapat
unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Volume darah secara keseluruhan kira-kira 5
liter. Sekitar 55 persennya adalah cairan, sedangkan 45 persen sisanya terdiri
atas sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau volume darah
yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sistem penggolongan darah ABO dan rhesus?
2. Bagaimana
cara menguji golongan darah?
C. Tujuan
1. Mengetahui
golongan darah sistem ABO dan rhesus seseorang.
2. Mengetahui cara menguji golongan
darah.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu
berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada
permukaan membran sel darah merah. Hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan
membran sel darah merah tersebut.
Dua jenis
penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor
Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain
antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan
yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut :
Ø Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah
dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap
antigen B dalam serumdarahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
Ø Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada
permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam
serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat
menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.
Ø Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah
dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A
maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah
dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien
universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat
mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
Ø Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa
antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang
dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang
dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama
O-negatif.
Fungsi penggolongan darah manusia
sangat besar manfaatnya, yaitu untuk transfusi darah dan membantu
penyelidikan tindak kriminal. Penggolongan darah penting
dilakukan sebelum transfusi darah karena pencampuran golongan darah yang tidak
cocok menyebabkan aglutinasi dan destruksi sel darah merah (Samsuri, 2004).
Untuk menentukan golongan darah pedomannya sebagai berikut:
|
Genotype
|
Golongan
|
Agutinogen
|
Aglutinin
|
|
OO
|
O
|
-
|
anti-A
dan anti-B
|
|
OA
/ AA
|
A
|
A
|
anti-B
|
|
OB
/ BB
|
B
|
B
|
anti-A
|
|
AB
|
AB
|
A
dan B
|
-
|
Jika darah seseorang yang diuji dicampur dengan serum
aglutinin A mengalami penggumpalan, maka kemungkinan golongan darah orang tersebut
adalah A atau AB. Jika darah tidak menggumpal, kemungkinan orang tersebut
memiliki golongan darah B atau O. Apabila diuji dengan serum aglutinin B
terjadi penggumpalan, kemungkinan orang tersebut memiliki golongan darah B atau
AB. Akan tetapi jika tidak menggumpal, maka kemungkinan orang tersebut
bergolongan darah A atau O.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Alat
dan Bahan
· Kaca objek (object glass)
· Blood lancet
· Pengaduk (
tusuk gigi )
· Kapas
· Alkohol 70%
· Serum anti-A
· Serum anti-B
· Serum anti-AB
B.
Cara
Kerja
1.
Siapkan kaca objek dan Blood lancet yang sudah dibersihkan
dengan alkohol 70%. Setiap anak harus menggunakan kaca objek dan Blood lancet yang berbeda, tidak boleh
dipakai secara bergantian.
2.
Barsihkan salah satu jari (biasanya
jari tengah) dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol 70%. Bersikan juga Blood lancet yang akan digunakan dengan
alkohol.
3.
Tusuklah ujung jari tersebut dengan
menggunakan Blood lancet, pijat-pijat
ujung jari agar darah mudah keluar.
4.
Teteskan pada kaca objek di 2 titik
dengan jarak tidak terlalu berdekatan. Bersihkan lagi ujung jari bekas tusukan
dengan alkohol 70% agar tidak terkena
infeksi.
5.
Teteskan 1 tetes serum anti-A dan
anti-B pada masing-masing tetesan darah. Aduk darah yang bercampur serum dengan
menggunakan tusuk gigi yang masing-masing berbeda, agar tidak tercampur.
6.
Amati dengan cermat, perhatikan ada
atau tidaknya penggumpalan.
7.
Tentukan tipe golongan darah
berdasarkan hasil analisis reaksi
penggumpalan. Catat datanya ke dalam tabel.
8.
Setelah praktikum selesai, bersihkan
kaca objek dengan sabun, bilaslah denagn air bersih, dan rendam di dalam air
panas agar steril.
BAB
IV
PEMBAHASAN
Golongan darah A Golongan darah B
1. Ada
berapa tipe golongan darah sistem ABO yang dimiliki oleh teman sekelas?
Sebutkan tipe golongan darah tersebut
Jawab
:
Ada
3, Yaitu A,B, dan O
2. Tipe
golongan darah system ABO manakah yang terbanyak di kelas?
Jawab
:
Golongan
darah O
3. Mengapa
pada tipe golongan darah O, tidak ada reaksi yang menggumpal. Jelaskan!
Jawab
:
Karena golongan darah O tidak memiliki aglutinogen
(antigen) yg dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan), sehingga apabila
golongan darah O direaksikan dengan serum anti A, anti B, anti AB maka tidak
akan menggumpal.
4.
Mengapa pada tipe golongan darah AB,
semua reaksi menggumpal. Jelaskan!
Jawab
:
Karena memiliki Aglutinogen A dan
B, namun tidak memiliki Aglutinin. Seperti yang kita ketahui pula bahwa aglutinogen (antigen) dapat
menyebabkan penggumpalan. Sehingga tipe golongan AB mengalami penggumpalan.
5. Gambarkan
skema transfusi darah pada golongan darah sistem ABO, uraikan penjelasannya.
Penjelasan
:
Golongan darah A dapat mendonorkan darah kepada A dan AB
Golongan darah
B dapat mendonorkan darah kepada B dan AB
Golongan darah
O dapat mendonorkan darah kepada O,A,B,AB
Namun Golongan darah AB hanya dapat mendonorkan darah kepada sesame AB dan tidak dapat mendonorkan darah kepada golongan darah lainnya.
6.
Apa yang terjadi jika orang yang
bergolongan darah AB menerima transfuse darah dari donor yang bergolongan darah
A?
Jawab
:
Hasilnya akan Sesuai atau tidak terjadi penggumpalan dan tidak
terjadi hemolisis. Karena
berdasarkan skema Nampak bahwa Golongan darah AB dapat menerima transfuse darah
dari semua jenis Golongan darah termasuk A.
7.
Apa yang terjadi jika orang yang
bergolongan darah B menerima transfuse darah dari donor yang bergolongan darah
O?
Jawab
:
Hasilnya akan Sesuai atau tidak terjadi penggumpalan dan tidak
terjadi hemolisis. Mengapa? Karena
golongan darah O adalah golongan darah yang dapat diterima oleh semua jenis
golongan darah termasuk darah golongan B.
8.
Jika seseorang memiliki darah Rh-
(Rhesus negatif) mendapatkan transfuse dari donor yang memiliki Rhesus+ (rhesus
positif), pada awalnya tidak membahayakan, tetapi transfuse darah Rh+
selanjutnya akan berbahaya. Mengapa?
Jawab
:
Karena
darah Rh⁻ akan segera memproduksi aglutinin anti-RhD dan
aglutinin anti-RhD pada resepien yang terbentuk akan bertambah banyak. Dan
kasus yang akan terjadi adalah hemolisis, yaitu pecahnya membran eritrosit,
sehingga hemoglobin terlepas bebas ke plasma darah. Akibatnya ginjal
harusbekerja keras mengeluarkan sisa pecahan sel-sel darah merah tersebut.
9.
Jelaskan akibatnya jika seorang wanita
memiliki Rh- mengandung janin dengan darah Rh+!
Jawab
:
Akibatnya
akan sangat berbahaya. Tubuh ibu akan secara alamiah membentuk zat anti bodi anti-RhD untuk
melindungi tubuh ibu sekaligus melawan “benda asing” (antigen RhD darah janin).
Akibatnya sel darah merah janin akan pecah dan hancur (hemolisis) dan kondisi
inni bisa menyebabkan kematian janin dalam rahin atau jika lahir akan menderita
eritoblastosis fetalis.
BAB
V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Golongan darah dikelompokkan menjadi 4, yaitu; A, B, O, dan AB. Penetapan
penggolongan darah didasarkan pada ada tidaknya antigen sel darah merah A dan
B. Individu-individu dengan golongan darah A mempunyai antigen A yang terdapat
pada sel darah merah, individu dengan golongan darah B mempunyai antigen B, dan
individu dengan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal
dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki
antigen, dikenal dengan golongan darah O). Ada dua macam antigen A dan B di sel
darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi
yang disebut golongan O.
B.
SARAN
Ketika
praktikum golongan darah, penusukan jarum dilaksanakan dengan teliti agar tepat
ditengah jari sehingga darah tidak melebar ditengah kuku.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar