MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MENERAPKAN PERILAKU JUJUR
DISUSUN OLEH :
1. ARIANI
2. ANDI WAHYU BANGSAWAN
3. DENI REKSA M.
4. MUH. YUSRIL PAHLAWANSYA
5. TRY HANDAYANINGRUM
KELAS X MIPA 2
SMA NEGERI 5 KENDARI
KATA PENGANTAR
Nabi Muhammad SAW. Diutus ke bumi
untuk menyempurnakan ahlak manusia. Keluruhan ahlak merupakan cermin
kepribadian seseorang. Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan dalam ayat-ayat suci
Allah SWT tentang ahlak-ahlak terpuji yang wajib dijalankan oleh setiap mukmin
yang beriman. Nabi Muhammad SAW. Bersabda “orang yang paling baik islamnya
dalah orang yang paling baik islamnya”, dengan kata lain hanya ahlak mulia yang
dipenuhi dengan sifat kasih sayang sajalah yang bisa menjadi bukti kekuatan
akidah dan kebaikan ibadah.
Sifat
jujur merupakan salah satu ahlak yang tepuji bahkan menjadi sifat wajib bagi setiap nabi dan
rasul. Jujur adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang
diamanatkan, seseorang yang jujur disebut al-Amin. Sifat jujur merupakan
sesuatu yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, sehingga perilaku
jujur harus senantiasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar segala
sesuatu yang dilaksanakan senantiasa memperoleh ridah dari Allah SWT. Amin
YaRabbal Alamin.
Kendari, 16 September 2015
penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………….. 2
Daftar isi……………………………………………………………………………… 3
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………… 4
A.
Latar Belakang……………………………………………………………….. 4
B.
Rumusan Masalah……………………………………………………………. 5
C.
Tujuan Penulisan…………………………………………………………….. 5
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………… 6
A.
Pengertian Perilaku
Jujur……………………………………………………. 6
B.
Pembagian Perilaku Jujur……………………………………………………. 7
C.
Ayat Dan Hadis Tentang Perilaku
Jujur…………………………………….. 8
D.
Manfaat Perilaku Jujur………………………………………………………. 12
E.
Pesan Teladan Rasulullah Tentang Perilaku
Jujur…………………………... 14
F.
Contoh Perilaku Jujur………………………………………………………... 19
BAB III PENUTUP…………………………………………………………………. 20
A.
Kesimpulan…………………………………………………………………... 20
B.
Saran…………………………………………………………………………. 20
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penulis
kitab al-Manazil mengatakan bahwa jujur adalah istilah untuk mengungkapkan
hakikat sesuatu yang berwujud kejadian yang sesuai dengan kenyataannya. Makna
lain kejujuran adalah tercapainya sesuatu dengan sempurna, beserta kekuatan dan
seluruh elemennya.
Seorang hamba wajib
berperilaku jujur ketika ia bermunajat kepada Tuhannya. Misalkan ketika ia
berikrar, “sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhan yang telah menciptakan langit
dan bumi,” tetapi ternyata hatinya tidak pernah mengingat Allah SWT, dan sibuk
dengan kepentingan duniawinya. Itu berarti dia telah mendustai Allah SWT.
Kejujuran bergantung pada keikhlasan seseorang. Jika amalannya tidak murni
untuk Allah Swt., tetapi demi kepentingan nafsunya berarti dia tidak jujur
dalam berniat, bahkan bisa dikatakan telah berbohong. Ini adalah perkara yang
berkaitan dengan niat yang tulus adalah pondasi untuk setiap amal.
Namun
jika kita melihat realita disekitar kita, kejujuran kini menjadi sesuatu yang
langka. Banyak sekali orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah dengan
kebohongan yang dilakukannya. Seperti para pejabat pemerintahan yang telah
diberi kepercayaan menjadi Al-Wakil bagi rakyat malah memanfaatkan amanat
tersebut untuk kepentingan pribadinya.
Oleh karna itu, perlu
pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat perilaku jujur. Karna
sesungguhnya dalam ayat-ayat Al-qur’an dan Hadis telah dijelaskan pula tentang
sifat jujur. Bahkan Nabi Muhammad SAW banyak memberikan pesan-pesan mulia
melalui perilaku jujur beliau.
Kejujuran seseorang
akan mendatangkan banyak mudarat baik bagi dirinya, orang lain, maupun
lingkungan disekitarnya, bahkan kejujuran bisa menjadi cirri khas seseorang.
Seperti Nabi Muhammad yang diberi gelar Al-Amin karna kejujuran Beliau yang
luar biasa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dari makalah ini, rumusan masalah yang akan
dikaji sebagai berikut:
1.
Bagaimana pengertian perilaku jujur
2.
Apa saja pembagian sifat jujur
3.
Bagaiman Ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang
perilaku Jujur
4.
Apa saja manfaat dari perilaku jujur
5.
Apa saja contoh pesan-pesan mulia Nabi
Muhammad SAW melalui perilaku jujur
6.
Apa saja contoh perilaku mulia dalam
kehidupan sehari-hari berkaitan dengan perilaku jujur
C. Tujuan Penulisan
Berkaitan dengan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan dari makalah
ini antara lain:
1.
Sebagai bahan diskusi
2.
Mengkaji pengertian Ahlak mulia Jujur
3.
Menguraikan pembagian perilaku sifat jujur
4.
Memaparkan ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang
perilaku jujur
5.
Menguraikan Manfaat Perilaku Jujur
6.
Memberikan contoh pesan teladan Nabi Muhammad
SAW melalui perilaku jujur
7.
Menguraikan contoh perilaku jujur dalam
kehidupan sehari-hari
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sifat Jujur
Dalam bahasa
Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti
nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam
bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.
Jujur adalah
sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa
adanya, tidak ditambahi ataupun dikurangi. Sifat jujur harus dimiliki oleh
setiap manusia, karna sifat ini merupakan prinsip dasar dari cerminan ahlak
seseorang. Bahkan jujur dapat menjadi kepribadian sesorang atau bangsa,
sehingga kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia.
Sikap jujur, merupakan salah satu fadhilah yang
menentukan status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat. Menegakkan prinsip
kejujuran adalah salah satu sendi kemaslahatan dalam hubungan antara manusia
dengan manusia dan antara satu golongan dengan golongan yang lain.
Dampak dari sifat jujur adalah menimbulkan rasa
berani, karena tidak ada orang yang merasa tertipu dengan sifat yang diberikan
kepada orang lain dan bahkan orang merasa senang dan percaya terhadap pribadi
orang yang jujur. Pepatah ada mengatakan “berani karena benar, takut karena
salah”.
Sifat Jujur tidak
dapat dimiliki dan dilaksanakan dengan baik dan sempurna oleh orang yang tidak
kukuh imannya. Orang beriman dan takwa, karena dorongan iman dan taqwanya itu
merasa diri wajib selalu berbuat dan bersikap benar serta jujur.
Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi
dan dihormati banyak orang. Karena orang yang jujur selalu dipercaya orang
untuk mengerjakan suatu yang penting. Hal ini disebabkan orang yang memberi
kepercayaan tersebut akan merasa aman dan tenang.
Jujur adalah sikap yang tidak mudah untuk
dilakukan jika hati tidak benar-benar bersih. Namun sayangnya sifat yang luhur
ini belakangan sangat jarang kita temui, kejujuran sekarang ini menjadi barang
langka. Saat ini kita membutuhkan teladan yang jujur, teladan yang bisa diberi
amanah umat dan menjalankan amanah yang diberikan dengan jujur dan
sebaik-baiknya. Dan teladan yang paling baik, yang patut dicontoh kejujurannya
adalah manusia paling utama yaitu Rasulullah saw. Kejujuran adalah perhiasan
Rasulullah saw. dan orang-orang yang berilmu.
B.
Pembagian Sifat Jujur
Kejujuran menjadi buah bibir banyak orang.
kejujuran hadir dengan gaung yang membahana. Kita seakan baru mengenal kata dan
sifat mulia, “jujur”. Entah karena seringnya ber dusta dan kebohongan oleh
perilaku kita sendiri ataukah karena seringnya kita dibohongi sehingga kita
menjadi heboh dengan “kejujuran.” Padahal, melakukan dan mengucapkan kebenaran
telah diajarakan dalam Al-qur'an. Melaksanakan dan melafalkan dengan penuh
kejujuran telah diungkap oleh Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam. Padahal,
mengamalkan dan melontarkan kebenaran telah disinggung oleh para Ulama".
Para Ulama berkata, “Langkah awal kejujuran
itu adalah menjauhi dusta di semua ucapan. Kejujuran menjadi pintu masuk dalam perbuatan,
niat, kenyataan hidup, dan di semua lini kedudukan.”
Jujur bukan hanya dalam perkataan, namun
kejujuran juga dinilai mulai dari niat seseorang, perbuatan, bahkan pikiran
seseorang.
Imam Al-Ghazali menyebut ada Lima Bentuk
Kejujuran. Yaitu :
1. Jujur dalam ucapan
Tiap kata yang meluncur dari bibir dan lisan
seseorang wajib memuat dan mengandung kebenaran. Bukan gunjingan, gosip, dan
fitnah.
Jujur dalam perkataan adalah bentuk
kejmasyhur. Setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya, yakni berbicara jujur
dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karna hal itu sepadan dengan
kebohongan, kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat
tertentu.
Jujur dalam perkataan hanya boleh dilanggar
dalam 3 hal, yakni ketika Istri memuji suaminya atau sebaliknya, ketika
mengatakan orang yang dicari tidak ada ketika orang tersebut hendak dihakimi
namun tidak bersalah, dan ketika menyalahi kejujuran untuk mendamaikan orang
yang sedang berselisih hingga damai kembali.
Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam
bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)
2. Jujur dalam berniat
Tanda niat yang benar, salah satu tandanya,
berbanding lurus dengan perbuatan di lapangan kehidupan. Niat saja belum cukup jika tidak diiringi
dengan kemauan dan kejujuran bahwa dirinya akan berupaya sekuat tenaga
mewujudkan niatnya tersebut.
Allah Swt. Mengingatkan orang-orang yang
berjihad di jalan-Nya bahwa jika mereka berniat mendapatkan Ridha-Nya,
mengorbankan harta dan jiwanya demi tegaknya Agama Islam berarti dia telah
mempersembahkan yang terbaik bagi agama, dunia, dan akhirat mereka.
Misalnya jika seseorang telah berniat dan
berikrar bahwa ia senantiasa menyembah kepada Allah SWT., namun ternyata ia
jarang mengingat Allah karna kepentingan Duniawinya maka dikatakan orang
tersebut tidak jujur dalam niatnya.
3. Jujur dalam kemauan dan merealisasikannnya
Jujur dalam
kemauan merupakan usaha agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan
kebenaran. Berpikir masak-masak sebelum bertindak, menimbang baik-buruk dengan
‘kacamata’ Allah adalah tanda jujur dalam kemauan ini.
Pada saat seseorang telah jujur dalam kemauan, tidak ada hal yang ingin ia gapai selain melakukan perkara yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Pada saat seseorang telah jujur dalam kemauan, tidak ada hal yang ingin ia gapai selain melakukan perkara yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kemauan atau
tekad yang dimaksudkan adalah seperti perkataan seseorang, “jika Allah
memberiku harta, aku akan menginfakkan semuanya”. Keinginan seperti ini adakalanya
benar-benar jujur dan ada kalanya pula masih diselimuti kebimbangan. Kejujuran
dalam merealisasikan keinginan, seperti apabila seseorang bertekad dengan jujur
untuk bersedekah. Tekad tersebut bisa terlaksana juga bisa tidak karna
tiba-tiba ia memiliki kebutuhan mendesak, sehingga tekadnya hilang. Atau lebih
mengedepankan kepentingan nafsunya. Berkaitan dengan hal ini Allah Swt.
Berfirman:
”Di antara orang mukmin itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah Swt. Dan diantara itu
ada yang gugur, dan ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka tidak sedikitpun
mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab
33/23.
4. Jujur dalam menepati janji
Janji adalah
hutang, demikian kalimat yang sering terngiang. Karena hutang, maka wajib untuk
dibayar sesuai dengan nilainya. Menepati janji bukan sembarang sikap. Menepati
janji berarti mempertaruhkan harkat dan martabat dirinya di hadapan orang lain
demi memberi keyakinan pada orang tersebut bahwa ia sanggup untuk membayarnya.
Dengan sikap jujur, janji akan tertunai dan amanah akan dijalankan.
5. Jujur dalam perbuatan
Sebagaimana
Al-Ghazali menyatakan makna jujur dalam niat dan perkataan, pada traktak bentuk
kejujuran yang kelima ini, Ghazali menggaris bawahi agar kita melengkapi diri
dengan jujur dalam perbuatan.
Ucapan yang baik dan niat tulus akan menjadi
semakin indah jika ada wujud amal dalam kenyataan. Jujur dalam perbuatan
artinya memperlihatkan sesuatu apa-adanya. Tidak berbasa-basi. Tidak
membuat-buat. Tidak menambah dan mengurangi. Apa yang ia yakini sebagai
kejujuran dan kebenaran, ia jalan dengan keyakinan kuat bahwa Allah Subhannahu
wa Ta'ala bersama orang-orang yang benar-benar sebenar-benarnya.
C.
Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang
perilaku jujur
Perilaku jujur bukan hanya diatur oleh aturan
duniawi, namun di dalam Al-Qur’an Allah Swt. Sudah secara khusus berfirman
tentang kewajiban untuk berperilaku jujur. Nabi Muhammad SAW. Juga mengungapkan
perilaku jujur dalam Ucapan-ucapan dan perbuatannya dalam bentuk Hadis.
Diantaranya ebagai berikut :
D.
Manfaat Perilaku Jujur
Sikap dan perilaku jujur membawa banyak
manfaat bagi orang yan melaksanakannya, diantaranya yaitu:
1. Perasaan enak dan hati tenang, jujur akan
membuat pelakunya menjadi tenang karena ia tidak takut akan diketahui
kebohongannya. Baginda Rasul SAW bersabda, ‘’Tinggalkanlah apa yang meragukanmu
menuju perkara yang tidak meragukanmu, sesungguhnya jujur adalah ketenangan
sedangkan dusta adalah keraguan.’’ (HR Turmudzi dari riwayat Hasan bin Ali).
2. Mendapat pahala seperti pahala orang syahid
di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Barang siapa meminta mati syahid
dengan jujur, maka Allah akan mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang
syahid, walaupun ia mati di atas kasurnya.’’ (HR Muslim) .
3. Selamat dari bahaya. Orang yang jujur
walaupun pertama-tama ia merasa berat akan tetapi pada akhirnya ia akan selamat
dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah bersabda, ‘’Berperangailah selalu
dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya jujur itu mencelakakan maka pada
hakikatnya ia merupakan keselamatan.’’ (HR Ibnu Abi Ad-Dunya dari riwayat
Manshur bin Mu’tamir).
4. Dijamin masuk surga, sebagaimana sabda
Rasulullah Muhammad SAW, ‘’Berikanlah kepadaku enam perkara niscaya aku akan
jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau bicara, tepatilah jika engkau
berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkan
pandanganmu, dan jagalah tanganmu.’’ (HR Ahmad dari riwayat ‘Ubadah bin
Ash-Shamit).
5. Dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah
SAW bersabda, ‘’Jika engkau ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka
tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara, dan berbuat
baiklah terhadap orang sekelilingmu.’’ (HR Ath-Thabrani). Demikianlah, jujur
penting sekali, terutama di masa ketika segala aspek kehidupan dipenuhi
kepalsuan dan dusta. Di manapun berada, kejujuran harus di atas segalanya.
Jujur adalah simbol profesionalisme kerja dan inti dari kebaikan hati nurani
seseorang.
6. Dampak sikap jujur dalam keluarga tentunya
membuat anggota keluarga tersebut menjadi nyaman, karena antar keluarga dapat
berinteraksi tanpa beban dan saling membantu apabila ada maslah dalam satu
pihak keluarga.
7. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari
tak merasa di bebani. Maksudnya bila kita jujur tentunya tidak ada kebohongan
yang harus di tutup-tutupi. Dalam hal lisan secara otomatis dapat berbicara
tanpa ada larangan atau pantangan yang harus dibicarakan dan bisa mengungkapkan
kata-kata secara leluasa dan mencritakan segala yang terjadi. Sedangkan dalam
hal perbuatan tidak ada yang harus disembunyi-sembunyikan. Secara leluasa dapat
bebas melakukan sesuatu tanpa takut ketahuan oleh siapapun.
8. Timbul rasa percaya diri pada diri
sendiri. Merasa optimis mampu melakukan sesuatunya tanpa ada rasa ragu dalam
benak dengan dasar-dasar yang kuat walaupun hasil yang tidak memuaskan. Segala apapun,
apabila dilakukan dengan rasa percaya diri akan terasa senang karena dapat
sebagai ukuran kemampuaannya. Tentunya dimasa yang akan datang akan sangat
mempengaruhi dalam kehidupan di dalam banyak hal, mulai dari pekerjaan,
hubungan keluarga, hubungan masyarakat, hubungan pertemanan dan banyak lagi.
9. Bersikap jujur dalam kehidupan masyarakat
tentunya akan banyak membawa dampak positif. Misal saja jika kita jujur dalam
hal pemilu pasti akan tidak ada lagi yang suap menyuap. Fakta dalam masyarakat
kalau ada pemilihan pemimpin baru, entah itu Presiden atau Gubernur atau Bupati
hingga sampai pemilihan ketua RTpun banyak yang melakukan suap agar memenangkan
dalam pemilihan. Bahkan yang menerima itu termasuk sama dengan yang menyuap.
Karena dengan menerima suap tadi, maka dengan terpaksa harus memilih yang sudah
diperintahkan orang yang meyuap, dan bukan dari hati nurani sendiri.
10. Bagi seorang pelajar tentunya mempunyai
angan-angan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang enak tetepi dapat
menghasilkan uang banyak. Nah, dengan mempunyai perilaku yang jujur tentunya
akan mempermudah untuk mendapatkan dan lebih-lebih menciptakan sebuah pekerjaan
yang di inginkan. Hal ini dikarenakan seseorang yang mempunyai sikap jujur maka
ia akan mudah mengerti jika diberikan sebuah persoalan-persolan yang
ditugaskannya kepada seseorang tersebut. Kemungkinan besar akan mempermudah
menyelesaikan tugas-tugasnya dan cepat tanggap dengan segala masalah-masalah
yang menghadang.
E.
Pesan-Pesan Teladan Nabi Muhammad SAW Melalui
Perilaku Jujur
Seperti
dikatakan pada awal pembahasan, bahwa Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan
perilaku Jujur dalam kehidupan sehari-hari melalui kisah-kisah teladan yang
memberikan pesan-pesan mulia bagi umatnya. Berikut beberapa kisah-kisah teladan
tentang perilaku jujur:
1.
Kisah Teladan
kejujuran Nabi Muhammad SAW
Pada
masa sebelum kenabian Rasulullah Muhammad SAW, terjadi banjir di Makkah yang
mengakibatkan Baitullah Ka'bah rusak total. Penduduk Quraisy di Makkah sepakat
untuk merenovasi Ka'bah bersama-sama. Ketika renovasi sampai ke tahap akhir,
terjadi perselisihan dalam menentukan siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad di
tempatnya. Setiap kabilah yang terlibat masing-masing merasa bahwa golongan
mereka paling pantas dan paling terhormat untuk melakukan tugas tersebut.
Perselisihan nyaris berlanjut ke arah baku hantam antar kabilah. Untunglah ada
seorang tua yang bijak yang mengusulkan agar masalah tersebut diselesaikan oleh
orang yang muncul pertama kali di pintu masjid. Mereka pun akhirnya sepakat.
Dengan berdebar-debar mereka pun menunggu.
Tak lama
kemudian muncullah Muhammad di pintu itu. Setiap orang yang di tempat itu pun
akhirnya bernapas lega karena Muhammad terkenal dengan panggilan Al-Amin karena
ia selalu berkata jujur dan menjaga amanah dengan baik. Dan memang setelah itu
Muhammad membuat keputusan yang sangat adil yang mencakup setiap keinginan para
kabilah. Sifat jujur yang dimiliki Muhammad (sebelum kenabian) membuat ia
disenangi oleh kaumnya dan dipercaya dalam setiap urusan. Hal yang sama juga
terjadi setelah kenabian.
2. Kisah Teladan Tsabit Bin Ibrahim
Suatu hari,
Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba ia
melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel
yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit,
apalagi di hari yang panas menyengat dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir
panjang buah apel itu dipungut dan dimakannya. Rasanya begitu lezat! Akan
tetapi baru sertengahnya dimakan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan
dia belum mendapat izin dari pemiliknya.
Tsabit segera
pergi ke kebun itu. Ia menemui seseorang di sana. Tsabit berkata, "Aku
telah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda
menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik. Aku hanya
tukang kebun di sini". Dengan nada menyesal Tsabit bertanya, "Di mana
rumah pemiliknya? Aku akan datang menemuinya dan minta agar dihalalkan apel
yang telah kumakan ini". Tukang kebun itu berkata, "Apabila engkau
ingin pergi ke sana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".
"Tidak mengapa. Walaupun jauh aku akan tetap ke sana. Aku telah memakan
apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seizin pemiliknya. Padahal Rasulullah
penah bersabda : 'Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia layak
menjadi umpan api neraka', " jawab Tsabit yang tekadnya sudah kuat.
Kemudian Tsabit
pergi ke rumah pemilik kebun. Setiba di sana dia langsung mengetuk pintu dan
akhirnya ia berhasil bertemu langsung dengan sang pemilik kebun yang umurnya
sudah tua. Setelah memberi salam dengan sopan Tsabit berkata, "Wahai tuan
yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang
jatuh keluar kebun tuan. Karena itu, maukah tuan menghalalkan yang sudah
kumakan itu ?". lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan
cermat. Lalu dia berkata, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya, kecuali
dengan satu syarat !". Tsabit merasa khawatir tidak dapat memenuhi syarat
itu, maka ia segera bertanya, "Apa syarat itu tuan ?". orang itu menjawab,
"Engkau harus mau menikahi puteriku !". Tsabit tidak memahami maksud
lelaki itu, dia berkata, "Apakah karena hanya makan setengah buah apelmu
yang keluar dari kebunmu, aku harus menikahi puterimu ?". Pemilik kebun
itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit, ia malah menambahkan, katanya,
"Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan
puteriku. Dia seorang yang buta, bisu dan tuli. Lebih dari itu ia adalah
seorang yang lumpuh!".
Tsabit amat
terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah
perempuan seperti itu patut dia persunting gara-gara setengah buah apel yang
tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian si pemilik kebun berkata, "Selain
syarat itu, aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan". Namun
Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangan dan
pernikahan tersebut. Aku telah bertekad untuk bertransaksi dengan Allah. Untuk
itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepada-Nya karena aku
amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan
kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala".
Maka pernikahan
pun dilaksanakan beberapa hari setelah itu. Ketika bertemu dengan istri baru
itu, Tsabit terkejut. Ternyata ia memperoleh istri yang begitu cantik. Istrinya
tidak buta, tidak bisu, tidak tuli dan tidak lumpuh. Akhirnya ia bertanya,
"Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa?". Istrinya
menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang
diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan
bahwa engkau tuli. Mengapa ?". Sang istri menjawab, "Ayahku benar,
karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak
membuat ridha Allah". "Ayahku juga mengatakan bahwa aku ini bisu dan
lumpuh, bukan?" tanya wanita itu. Tsabit pun mengangguk. Istri Tsabit
berkata, "Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan
lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku dikatakan lumpuh karena
tidak pernah pergi ke tempat yang dapat menimbulkan kegusaran Allah".
Tsabit sangat bahagia setelah mendengar semua itu. Nah ketahuilah bahwa di
kemudian harinya, wanita inilah yang melahirkan seorang ahli fiqh Islam yang
terkenal yaitu Abu Hanifah.
Kejujuran yang terpancar dari pribadi Tsabit bin Ibrahim membuat sang pemilik kebun memandang Tsabit memiliki nilai lebih di hadapannya. Ia merasa bahwa lelaki seperti ini yang memiliki iman yang kuat jarang sekali dan sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu, sang pemilik berusaha agar Tsabit mau menikahi puterinya yang juga shalehah.
Kejujuran yang terpancar dari pribadi Tsabit bin Ibrahim membuat sang pemilik kebun memandang Tsabit memiliki nilai lebih di hadapannya. Ia merasa bahwa lelaki seperti ini yang memiliki iman yang kuat jarang sekali dan sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu, sang pemilik berusaha agar Tsabit mau menikahi puterinya yang juga shalehah.
3.
Kisah Teladan
Imam Syafi'i rahimahullah
Imam Syafi'i
rahimahullah adalah salah seorang ahli fiqh di dunia Islam. Ketika ia masih
muda, suatu hari ia akan berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk
belajar kepada seorang ulama besar di kota. Ibu Syafi'i kecil memberikan bekal
uang sebagai bekal untuk putranya di kota. Jumlah uang itu cukup banyak ! (Jika
dihitung Dengan kurs rupiah bisa sampai jutaan) Uang tersebut disimpan di saku
baju Syafi'i kecil yang sengaja dijahit di bagian dalam bajunya. Sang ibu pun
berpesan agar Syafi'i kecil senantiasa berkata jujur.
Syafi'i kecil
berangkat bersama-sama dengan sebuah rombongan kabilah. Tiba-tiba di tengah
jalan, rombongan itu dicegat oleh gerombolan perampok. Semua harta yang dibawa
oleh rombongan kafilah tersebut dirampas habis. Akhirnya tibalah giliran
Syafi'i kecil digeledah. Ternyata perampok itu tidak berhasil menemukan
apa-apa. "Hei anak kecil, kamu bawa harta atau tidak ?" Tanya
perampok. "Ya, aku bawa di saku baju di balik bajuku !" jawab Syafi'i
kecil dengan polosnya sambil menyebutkan jumlah uang yang dibawanya. "Ah,
mana mungkin anak kecil seperti kamu membawa uang sebanyak itu !" tukas si
perampok. "Sini biar aku geledah anak ini !" kata pimpinan perampok.
Betapa terkejutnya mereka ketika ternyata apa yang dikatakan Syafi'i kecil itu
benar. Uang tersebut akhirnya dirampas dan para perampok pun pergi.
Di tengah
perjalanan, sang pimpinan perampok tampak gundah. Ia jadi tersentuh hatinya
ketika tadi menyaksikan kejujuran Syafi'i kecil. Ia mulai berpikir bahwa
sebenarnya yang ia dan teman-temannya lakukan adalah salah. Tak lama kemudian
para perampok pun kembali ke rombongan kabilah tadi. Setiap orang yang ada di
rombongan itu kaget ketika melihat rombongan perampok itu kembali. (Mereka
pikir akan dirampok lagi…….tapi, apa yang mau dirampok ?) Mereka sangat
terkejut ketika menyaksikan bahwa para perampok itu mengembalikan harta yang
mereka rampok tadi. Rupanya pimpinan perampok itu menjadi insyaf lalu ia
mengajak kawan-kawannya untuk insyaf juga. Subhanallah!
Kejujuran yang muncul dari Syafi'i kecil ternyata mampu meluluhkan hati para perampok yang hatinya kriminal. Padahal bermula dari keimanan Syafi'i kecil kepada Allah.
Kejujuran yang muncul dari Syafi'i kecil ternyata mampu meluluhkan hati para perampok yang hatinya kriminal. Padahal bermula dari keimanan Syafi'i kecil kepada Allah.
4.
Kisah Teladan
George Washington
Kalian pernah
dengar George Washington ? Itulah orang yang mukanya ada di uang dolar Amerika.
Nah pada waktu kecil, George dihadiahi kapak kecil oleh ayahnya. Saking
gembira, George bermain di kebun rumahnya dan berbuat iseng pada pohon-pohon di
kebun, termasuk juga pada pohon kesayangan ayahnya. Tanpa diduga, pohon
kesayangan ayah George roboh. George terkejut dan amat ketakutan. Ia
membayangkan bahwa akan betapa marahnya sang ayah kalau tahu. Ia bingung, lebih
baik pura-pura tidak tahu atau jujur saja. Akhirnya dia berpikir bahwa mau
tidak mau ayahnya pasti akan tahu. Akhirnya George menemui sang ayah dan
mengakui kesalahannya. Tahukah kalian apa reaksi sang ayah ? Ia malah tersenyum
dan berkata, "George, ayah lebih baik kehilangan pohon kesayangan daripada
harus mempunyai anak yang tidak jujur." George pun bernagas lega.
Dari kisah ini kita mengetahui bahwa orang
yang jujur dianggap sangat berharga sekalipun dipandang dari kacamata orang
tidak beriman. Setiap Orang Suka Orang yang Jujur
5.
Kisah Teladan
Rasulullah dan kaum Quraisy
Pada
saat Rasullullah hijrah bersama Abu Bakar Ash Shiddiq Ra., beliau sengaja
menyuruh Ali bin Abi Thalib ra untuk tetap tinggal di Makkah untuk
menyelesaikan amanah yang belum diselesaikan. Tahukah kalian amanah apakah itu
? Ternyata Rasulullah selama ini masih dipercaya untuk menjaga barang-barang
titipan dari sejumlah penduduk di Makkah padahal saat itu Rasulullah sangat
ditekan dan dimusuhi. Hal ini memang wajar karena kebanyakan penduduk Mekkah
adalah orang-orang yang masih musyrik dan tentu saja tidak bisa dipercaya.
Sifat
jujur yang dimiliki Rasulullah membuat orang Quraisy -mau tidak mau-
mempercayakan barang-barangnya sekalipun mereka tidak suka terhadap ajaran yang
dibawa oleh Muhammad.
6.
Kisah Teladan
Ammar Bin Yasir Ra.
Ammar bin Yasir Ra. adalah salah seorang shahabat Rasul yang
dijamin masuk surga, beserta ayah dan ibunya. Pada periode makkiyah, Ammar
beserta kedua orang tuanya mengalami penyiksaan yang sangat berat yang
dilakukan oleh para musyrikin quraisy. Ammar sampai harus menyaksikan ayah dan
ibunya mati syahid dihadapannya akibat siksaan yang dilakukan oleh orang-orang
musyrik itu. Ammar juga ikut disiksa. Ia disuruh menyembah kepada
berhala-berhala mereka yaitu Latta dan Uzza. Tanpa sadar, Ammar pun mengikuti
apa yang mereka suruh.
Setelah
dilepaskan, Ammar pun segera pergi menghadap Rasulullah dan ia menyatakan
penyesalannya karena telah menyembah berhala ketika disiksa. Kemudian turun
firman Allah kepada Rasulullah yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh
Ammar bin Yasir dimaafkan oleh Allah, karena ia melakukan itu karena terpaksa
dan hatinya masih tetap beriman.
Kita mengetahui bahwa Allah mengetahui isi hati kita.
Kita juga mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Itulah
sebabnya mengapa perbuatan yang dilakukan Ammar bin Yasir dimaafkan. Dia
melakukan maksiat karena terpaksa padahal hatinya tidak mau. Tapi sekali lagi
jangan lupa kalau hal ini hanya terjadi pada keadaan yang benar-benar darurat.
Apalagi saat itu Ammar terancam nyawa dan aqidahnya. Sekalipun kalau sekiranya
ia sampai harus mati, ia tetap mati dalam keadaan syahid seperti yang dialami
oleh kedua ibu bapaknya. Sedangkan orang yang mati syahid itu akan masuk surga
tanpa hisab.
7.
Kisah Teladan
Rasulullah
Ketika
Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash Shiddiq sedang hijrah ke Madinah, mereka
bertemu dengan seseorang yang sedang berjalan menuju Mekkah. Pada waktu itu
mereka berdua sedang dikejar-kejar oleh musyrikin Mekkah untuk dibunuh.
Untunglah orang yang di depan mereka tidak mengenal siapa mereka. Orang yang di
depan mereka bertanya, "Kalian berasal dari mana?". "Kami
berasal dari air!" jawab Rasulullah. "Oh, sungai Tigris! Mereka
berasal dari Persia" gumam orang itu sambil melanjutkan perjalanan.
Tahukah kalian jawaban Rasulullah tadi dapat diartikan macam-macam. Bisa jadi dari air itu berarti dari tempat yang banyak airnya, misal : sungai, danau atau mata air. Padahal maksud Rasulullah adalah ia berasal dari air mani. Bukankah setiap manusia mula-mula diciptakan dari air mani yang hina. Jadi, Rasulullah menyembunyikan keberadaan dirinya dan Abu Bakar agar tidak ketahuan dengan cara yang tetap jujur. Coba kalau misalnya orang tadi bertemu dengan orang ynag mengejar Rasulullah, lalu ditanya, "Apakah kamu bertemu dengan dua orang yang datang dari Makkah?". Sudah pasti jawaban orang itu : "Tidak!"
Tahukah kalian jawaban Rasulullah tadi dapat diartikan macam-macam. Bisa jadi dari air itu berarti dari tempat yang banyak airnya, misal : sungai, danau atau mata air. Padahal maksud Rasulullah adalah ia berasal dari air mani. Bukankah setiap manusia mula-mula diciptakan dari air mani yang hina. Jadi, Rasulullah menyembunyikan keberadaan dirinya dan Abu Bakar agar tidak ketahuan dengan cara yang tetap jujur. Coba kalau misalnya orang tadi bertemu dengan orang ynag mengejar Rasulullah, lalu ditanya, "Apakah kamu bertemu dengan dua orang yang datang dari Makkah?". Sudah pasti jawaban orang itu : "Tidak!"
8.
Kisah Teladan Rasulullah
sebagai penunjuk jalan
Masih ketika
hijrahnya Rasulullah SAW bersama Abu Bakar. Rasulullah dan Abu Bakar biasa
bertukar tempat untuk duduk di atas unta selama perjalanan. Kali ini giliran
Abu Bakar yang duduk di unta dan Rasulullah yang berjalan menuntun unta.
Di tengah
perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang. Orang itu bertanya kepada Abu
Bakar, "Siapakah dia?" sambil menunjukkan tangannya ke arah
Rasulullah. Abu Bakar menjawab, "Ia adalah penunjuk jalanku."
Dengan cerdik
Abu Bakar memberitahukan identitas Rasulullah sebagai sang penunjuk jalan.
Orang yang bertanya tentu saja berpikir bahwa ia adalah penunjuk jalan biasa
karena saat itu Abu Bakar sedang dalam perjalanan menuju Madinah. Padahal
sebenarnya bagi Abu Bakar, Rasulullah adalah penunjuk jalan yang selama ini
telah menunjukinya ke jalan yang lurus yaitu Islam.
F.
Contoh Penerapan Perilaku Jujur Dalam
Kehidupan Sehari-Hari
Perilaku jujur bukan hanya dijadikan teori,
namun harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Penerapan
perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga,
sekolah, maupun masyarakat misalnya sebagai berikut:
1. Meminta izin atau berpamitan kepada orang tua
ketika akan pergi kemanapun, sehingga orang tua kita akan percaya dan yakin
bahwa kita pergi ketujuan yang baik.
2. Tidak meminta sesuatu diluar kesanggupan
orang tua kita agar orang tua tidak terbebani.
3. Mengembalikan uang sisa belanja meskipun
kedua orang tua tidak mengetahuinya, sehingga orang tua akan percaya dan kadang
memberi kita uang yang lebih lagi.
4. Melaporkan hasil belajar meskipun dengan
nilai yang kurang memuaskan.
5. Tidak memberi atau meminta jawaban kepada
teman ketika sedang ulangan atau ujian sekolah meskipun teman akrab.
6. Mengatakan dengan sejujurnya alasan
keterlambatan datang atau ketidakhadiran ke sekolah, bukan dengan mengarang
alasan.
7. Mengembalikan barang-barang yang dipinjam
dari teman atau orang lain meskipun barang tersebut tampak tidak begitu
berharga.
8. Memenuhi undangan orang lain ketika tidak ada
hal yang menghalangi.
9. Tidak menjanjikan sesuatu yang tidak dapat
kita penuhi.
10. Mengembalikan barang temuan kepada pemiliknya
atau melalui pihak yang bertanggung jawab.
11. Membayar sesuatu sesuai dengan harga yang
telah disepakati. Misalnya ketika membayar makanan yang diambil tanpa
mengurangi meskpiun si penjual tidak mengetahui.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jujur adalah
sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa
adanya, tidak ditambahi ataupun dikurangi. Sifat jujur harus dimiliki oleh
setiap manusia, karna sifat ini merupakan prinsip dasar dari cerminan ahlak
seseorang. Bahkan jujur dapat menjadi kepribadian sesorang atau bangsa,
sehingga kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia.
Perilaku jujur
mendatangkan banyak manfaat bagi kita yang melaksanaknnnya. Dan Allah Swt. Pun
telah menjelaskan kewajiban berperilaku jujur dalam Ayat-Ayat Al-Qur’an maupun
dalam Hadis Rasulullah Saw.
Rasulullah telah banyak mencontohkan
sikap-sikap teladan melalui perbuatannya. Sehingga kita sebagai umatnya harus
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kita juga.
B. SARAN
Perilaku jujur sangat penting bagi kehidupan kita dalam berbagai aspek
sehingga perilaku jujur wajib menjadi sikap setiap orang. Berdasarkan
pembahasan sebelumnya, kita dapat membuat beberapa solusi sebagai perubahan
perilaku kita, diantaranya:
1.
Menanamkan pentingnya perilaku jujur
2.
Senantiasa melaksanakan kejujuran dimanapun dan
kapanpun
3.
Mempertahankan kejujuran dalam keadaan apapun
Dengan melaksanakan Kejujuran kita akan
merasakan kasih dan Ridha Allah Swt. karna sesungguhnya Allah Swt. Mencintai
orang-orang yang jujur.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusijin share yha
BalasHapusijin copy ya ,,,jadi amal jariyyah
BalasHapus